Tentang Pernikahan

 

Aku pernah menginginkan pernikahan. Membayangkan seorang lelaki yang menurutku pantas untuk mendampingiku. Mengaguminya saja butuh waktu bertahun-tahun sejak aku remaja. Lalu beberapa kali aku menyebutkan namanya dalam do'a dan meminta dirinya pada Gusti Allah. Namun, ia menikah dan membina hidup bahagia. Mungkin lebih bahagia dari hidupku saat ini. Aku tidak kecewa. Takdirku memang bukan dirinya. Tapi ini patah hati terberatku. Satu-satunya nama yang pernah aku doa'akan ternyata tidak untukku. Sejak itu, tidak ada lagi nama yang kusebut. Hanya harapan pada kehidupan yang lebih baik.

Aku pernah tertarik pada lelaki yang bahkan hanya aku tahui namanya. Dia tidak pernah berbicara padaku, hanya sekali seumur hidupku. Di ruang kelas yang penuh manusia itu dia menyebut namaku. Lirih, tapi kenangannya selalu terbayang dan rasa penasaran tentangnya meningkat sedikit demi sedikit. Tahun berlalu dan aku tidak mengetahui kabarnya. Mencari berkali-kali sampai aku fikir dia hilang ditelan bumi. Sampai akhirnya jejaknya kutemukan melalui seorang sahabat. Aku bercerita. Perasaan itu aku ungkapkan pada sahabatku yang juga sahabatnya. Entah apa yang terjadi di depan nanti, aku hanya ingin tenang setelah rasa yang kupendam satu dekade itu kuluapkan. Menarik ketika sahabatku bilang dia juga pernah mencariku, meskipun aku tidak tahu untuk apa. Sejujurnya aku ingin bersua kata, tapi terlalu sungkan hanya untuk berucap salam. Apalagi saat ini dia sedang sakit. Semoga dirinya bahagia selalu.

Aku pernah menolak laki-laki, bahkan sebelum ia mengutarakan perasaanya. Aku menjaga jarak dengan dirinya tapi juga membuat banyak kenangan baik dan indah bersamanya. Menjadikannya seperti bagian terbaik dari kisah perasaanku. Ketakutanku saat itu, bahwa dia akan sangat berbeda dariku dan keluargaku. Keresahanku, dia tidak akan diterima oleh orang tuaku. Kekhawatiranku, dia memberi isyarat yang sama pada banyak perempuan di luar sana. Aku menjauhi perasaannya, memberi batas, tapi tidak dengan raganya. Kami berteman baik bahkan sampai hari ini. Kesuksesannya memberiku bahagia bahwa jika dulu kami bersama, mungkin dia tidak akan bisa berjalan sejauh ini.

Aku pernah menolak laki-laki, yang rasa cintanya mungkin lebih besar dariku. Yang masa cintanya sangat lama. Yang memberikan harapan tentang masa depan. Yang menjanjikan cinta untuk diriku dan semua yang ada padaku saat ini. Aku menolaknya. Bukan karena tidak suka, perempuan mana yang tidak mau dicintai sebegitu besarnya? Aku terlalu malu untuk membagikan susahku padanya, menaruh beban mentalku pada orang yang ku anggap sangat baik, memberikan kesulitan hidup pada orang yang tanpa masuk di kehidupanku yang terpenjara ini dia bisa hidup lebih bebas dan tenang. Aku tidak membencinya, juga tidak tahu apa bisa mencintainya.

Tahun depan usiaku 30, tua kata orang-orang, perawan tua kata sebagian. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, mau kemana aku membawa diriku? Kebermanfaatanku sudah cukup banyak. Hanya bahagiaku yang masih sangat kurang bahkan minus. Mau diisi apa hidupku setengahnya lagi? Aku tidak menyesali apapun seperti keinginanku yang tidak ingin menyesali hidup di usia 30. Aku sangat baik membawa hidupku dan jalannya. Hanya saja semakin hari, kosong itu semakin terasa. Keinginanku untuk tidak menua sendirian terbuka lagi. Namun dengan siapa? Apa aku sanggup hidup seperti Rabi'ah yang beribadah dan mencintai Gusti Allah tanpa batas? Rasanya tidak. Aku ingin dipeluk erat, dielus, dan ditenangkan. Memori masa kecilku kembali menguat. Aku ingin disayangi oleh manusia yang dengannya aku bisa sampai ke syurga. 

0 Komentar