Rana namanya. Hidupnya sangat baik kepada semua orang. Ada yang ingin cerita dia dengarkan, ada yang ingin menangis dia temani, ada yang ingin berjuang dia semangati, ada yang ingin menikah dia jembatani, ada yang ini belajar dia dampingi, ada yang ingin menyerah dia motivasi, ada yang ingin mencari dia bantui, ada yang ingin berubah dia yakini, ada yang ingin traveling dia temani, ada yang ingin bertemu dia datangi, ada yang kekurangan dia beri, ada yang ingin mengejar mimpi dia membersamai, ada yang bimbang dia jelasi.
Lalu saat semua yang datang itu mendapat jawaban dan bahagia atas semua ceritanya, perjuangannya, pernikahannya, pelajarannya, perubahannya, pertemuannya, dia ditinggal sendiri. Bahkan tidak diajak berkomunikasi. Mungkin ada tapi sekedar basa-basi.
Rana boleh lelah? Tentu. Boleh menjauh dari lingkungan itu? Jelas boleh. Rana menjauh, tapi sakitnya tidak pernah berhenti. Dia hanya orang baik yang ingin hidup orang lain juga baik. Tapi sayangnya, tidak semua mereka itu baik kembali padanya. Beberapa tokoh, kata Rana, hanya sekedar singgah. Tokoh utama dengan segala perasaannya itu hanya dirinya. Orang lain bukan siapa-siapa. Sakitnya telah memberi kesimpulan penting bahwa orang yang datang di hidupnya tidak benar semua menyayanginya.
Rana yang baik teriris setiap mengingat jengkal hidupnya yang hanya untuk orang lain. Bukan untuk dirinya. Ia berkaca di atas air dan melihat sedalam apa kekecewaan yang tertancap di hatinya.
Rana tidak muda, juga belum terlalu tua. Ia hanya cukup dewasa untuk sadar bahwa sudah waktunya pergi dan lupakan mereka. Rana lalu sadar, bahwa ia yang selalu ditinggalkan tanpa manusia-manusia itu berfikir dua kali untuk menimbangnya. Bajingan.

0 Komentar