Pemateri : Kang Ahsin Mahrus (Syiria)
Basal Al Atrus adalah pejuang Syiria yang melawan Perancis. Namun menariknya, berita tentang Basal sampai ke Mbah Hasyim Asy'ari di Jombang. Bagaimana mungkin? Ini membuktikan Islam yang universal.
Dunia Islam, dari sisi konsep, ajaran dan pemeluknya itu seperti satu anggota badan yang jika salah satunya sakit maka yang lainnya juga sakit.
(Selingan : pas kang Ahsin bilang ini saya jadi inget tentang konflik dan isu agama serta teori Emotional Religions nya Emile Durkheim. Mungkin apa yang dikemukakan kang Ahsin jadi landasan adanya emosi dalam beragama)
Tertulis dalam sejarah, sarana informasi dan tempat berkomunikasi antara ulama Indonesia dan internasional itu tidak lain adalah haji meskipun perjalanannya memakan waktu 4 bulan menghunakan kapal.
Haji mempertemukan ulama dari berbagai penjuru dan bertukar ilmu, pengetahuan, dan informasi. Haji juga akhirnya menimbulkan adanya sebuah jaringan ulama internasional. Oleh karena itu pada masa kolonial, Belanda mempersulit muslim Indonesia yang berangkat haji karena haji menjadi sarana ulama Indonesia untuk berhubungan dengan dunia internasional.
Makanya gelar haji diberikan oleh Belanda. (Pas saya belajar di kampus, gelar ini diberikan untuk memberi tanda siapa yang sudah haji dan harus diwaspadai).
Namun ini juga agak dipertanyakan karena di Mesir atau Syiria pun ada gelar Al Haj untuk orang yang sudah haji.
Peran ulama Timur Tengah dalam khazanah keilmuan Indonesia sangat penting karena secara nyata sanad-sanadnya berhubungan dan sampai. Hanya di Syam, jaringan keilmuan kurang sampai ke Indonesia karena mungkin disana tidak ada lembaga pendidikan besar seperti Al Azhar di Mesir.
Selanjutnya kenapa ulama Indonesia jarang menulis seperti ulama di Timur Tengah?
Karena ulama Indonesia lebih fokus untuk mendidik umat untuk membuat regenerasi. Jadi memang jarang ada yang menulis. Bahkan yang menulis itu malah murid-murid dari ulama tersebut.
Sayangnya, menurut kang Ahsin, ada negative vibe dari orang-orang yang kuliah di Timur Tengah.
Contohnya : saat pulang ke Indo, mereka agak keras dalam hal budaya.
Kenapa? Karena mereka pulang ke Indonesia membawa budaya Timur Tengahnya, bukan ilmunya.
Contoh : Mbah Hasyim Asy'ari pernah belajar di Timur Tengah. Tapi ketika pulang ke Indonesia mbah Hasyim tetep jadi orang Indonesia. Pakai sarung peci. Istrinya juga tetep pakai kerudung jaman tahun 30-an, ga disuruh pakai cadar. Apa itu artinya mbah Hasyim ga faham tentang aurat? Tentu faham.
Contoh lain : Walid Ahsin pernah belajar di Madinah. Tapi apa pas pulang dan liat yang bakar-bakar kemenyan ya biasa aja.
Jadi orang Indonesia, yang belajar di negara manapun, terutama Timur Tengah kalau pulang harus tetep jadi orang Indonesia.
Kita juga perlu bersyukur karena di Indonesia, ulama dan umara (read:umaro) adem-adem aja. Kalo di Timur Tengah kan engga, di Arab sendiri ulama dan umara masih sering saling curiga. Makanya itulah kenapa Indonesia menjadi pusat keharmonisan umat.

0 Komentar