Keberadaan mitos
memang sangat melekat dalam sebuah
peristiwa sejarah khususnya Indonesia. Terkadang keduanya bahkan sulit
dibedakan dan akhirnya mitos dipercaya sebagai bagian dari peristiwa sejarah. Kebanyakan
orang menyebut mitos adalah sebuah cerita dari orang-orang zaman dahulu tentang
satu atau rangkaian peristiwa yang berbentuk larangan atau hal-hal yang tidak
masuk akal. Ini bisa jadi dikarenakan kepercayaan nenek moyang kita dahulu. Padahal
pada masa kolonial para penjajah juga menerapkan mitos untuk menciutkan
mentalitas bangsa kita.
Mitos yang
sangat terkenal dan tumbuh subur adalah penjajahan Belanda selama 350 tahun. Jika
diruntut dari awal, Belanda datang ke Indonesia pada pertengahan abad ke 16
tujuannya adalah untuk berdagang belum mengekploitasi. Kemudian pertengahan
abad 17 mereka mendirikan VOC untuk menghindari persaingan usaha di Indonesia.
Saat VOC bangkrut satu abad setelah pendiriannya baru kemudian Indonesia
diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda. Jika dihitung dari berdirinya VOC
ke kemerdekaan kita waktunya kurang lebih 2,5 abad dan dari bubarnya VOC ke
kemerekaan kurang lebih 1,5 abad. Sedangkan 350 tahun/ 3,5 abad adalah
kependudukan Belanda di Indonesia sejak awal datang hingga menyerahkan
kekuasaan pada Jepang, bukan penjajahannya. Jadi tidak benar bahwa penjajahan
di Indonesia oleh Belanda berlangsung selama 3,5 abad.
Selain tentang
kolonialisme Belanda, banyak pula mitos yang berkembang baik dalam sejarah
nasional ataupun cerita rakyat. Riswinarno, S.S., M.M. dosen arkeologi UIN
Sunan Kalijaga dalam satu kuliahnya mengatakan bahwa Dr. Hussein Djayadiningrat
saat membuat disertasi tentang sejarah Banten menyebutkan bahwa sejarah banten
itu nol, kosong. Ini dimungkinkan karena terlalu banyak mitos yang mengiringi
sejarah tersebut dan Dr. Hussein yang saat itu tinggal dan sekolah di Leiden
tidak dapat menerimanya.
Dari contoh
diatas jelas bahwa perbedaan mitos dan sejarah bukan dari benar tidak, terkenal
tidak ataupun percaya tidak pada ceritanya. Perbedaan mitos dan sejarah
terletak pada waktu. Mitos tidak berwaktu, sedangkan sejarah memiliki waktu.
Bandingkan dengan setiap peristiwa sejarah di Indonesia seperti serangan umum
11 Maret atau Bandung Lautan Api. Keduanya memiliki waktu yang jelas.
Sebagai bangsa
yang cerdas, kita tidak harus menghilangkan mitos tapi juga jangan terlalu
mempercayainya. Mitos adalah warna dalam perjalanan pembacaan Indonesia yang
kaya akan sejarah, budaya dan tradisi. []

0 Komentar