Hola. Maaf lahir batin readers!
Karena kemarin banyak yang nanya kenapa gue gak pake bahasa baku dalan beberapa tulisan kemarin, akhirnya hari ini gue mencoba nulis lanjutan series habib dengan bahasa yang se-baku mungkin untuk mengapresiasi mereka yang baca tulisan gue.
Lets started.
***
Seperti yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya, konsep habib di wilayah Arab memang tidak sama dengan konsep habib di Indonesia. Maka dari itu sangat jelas bahwa cara memuliakan habib seperti di Indonesia tidak datang dari Arab. Hal tersebut merupakan budaya Indonesia yang mendapat pengaruh dari orang-orang arab Yaman yang merupakan komunitas arab terbesar di Indonesia.
Selain Arab, saya juga melihat kondisi Turki. Sebuah negara yang merupakan bekas dinasti Islam terbesar pada masanya, Dinasti Turki Utsmani.
Hal yang menjadi pertanyaan saya tetap sama.
Apakah ada golongan habib disana? Bagaimana cara orang-orang Turki menghormatannya?
Narasumber saya kali ini adalah teman saya yang sedang melanjutkan pendidikan di salah satu pesantren di Turki.
Menurut narasumber, di Turki, keturunan Nabi SAW disebut seyyid untuk laki-laki dan seyyidah untuk perempuan. Orang-orang pesantren di Turki memanggil seyyid dengan sebutan efendim yang artinya tuanku. Panggilan itu termasuk panggilan yang paling lembut di Turki.
Secara nasab, konsep seyyid di Turki sama seperti di Mesir. Tidak patriarki. Tidak harus selalu dari jalur ayah (buka tulisan saya tentang konsep habib di Mesir jika belum tahu).
Di Turki, untuk mengetahui seorang seyyid pun tidak terlalu mudah namun juga tidak sulit. Alasannya karena banyak orang Turki yang sudah merubah marga seyyidnya menjadi marga Turki. Ketika Turki Utsmani runtuh, westernisme digencarkan. Diantaranya adalah larangan adzan menggunakan bahasa Turki (silahkan cari sendiri perbedaan antara bahasa Turki sebelum dan setelah westernisasi), larangan mengucapkan kata Allah, dan lainnya. Hukumannya untuk aturan ini pun tidak main-main. Seseorang yang diketahui melanggar akan dipenjara. Hal inilah yang kemungkinan besar menjadi alasan orang-orang Turki merubah marga mereka.
Tapi ada beberapa keluarga seyyid yang tidak merubah marga mereka. Seperti Syekh Fadhil (cucu Syekh Abdul Qadir Jailani), Geylani, Tebrazi, Hayrani, Zerraki, dan lain-lain.
Selain itu, seyyid yang sudah merubah marganya menjadi marga Turki diantaranya Deniz, KuriÅŸ, dan lain-lain.
Para seyyid di Turki tidak gencar mengadakan pengajian-pengajian di majelis seperti habib-habib di Indonesia meskipun ada beberapa diantaranya yang melakukan ceramah-ceramah. Beberapa dari mereka juga mendirikan pesantren. Salah satunya pesantren yang ditempati narasumber saya.
Bentuk penghormatan orang Turki terhadap seyyid tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Hanya saja, tidak seekslusif di Indonesia. Hal ini dikarenakan oleh perbedaan budaya. Ketika saya tanya kenapa, narasumber saya menjawab "memang adat orang-orang Turki seperti itu", katanya.
Meskipun begitu, persamaan antara keduanya adalah seyyid di Turki juga dicium tangannya. Seyyid yang masih kecil pun dicium tangannya dengan tujuan meminta barokahnya. Namun, ada juga beberapa seyyid yang tidak mau dicium tangannya. Cukup sekedar salaman saja.
Menurut narasumber, sejak Turki Utsmani runtuh tahun 1923 M (sumber yanh saya temukan rhntuh tahun 1924 M), penghormatan terhadap seyyid di Turki terbilang biasa saja jika dibandingkan dengan ketika masa Turki Utsmani masih berdiri. Pada masa Turki Utsmani, seorang seyyid akan sangat dihormati sekali (silahkan cari mengenai penghormatan seyyid pada masa Turki Utsmani).
Meskipun bentuk penghormatan orang-orang Turki terhadap seyyid tidak seperti Indonesia, namun secara tatakrama ada hal.menarik yang saya temukan ketika berdiskusi dengan narasumber. Menurut narasumber, orang-orang Turki terbilang memiliki tatakrama yang baik terutama terhadap Al Qur'an dan kitab jika dibandingkan dengan di Indonesia.
Orang-orang Turki tidak berani memegang Al Qur'an dan kitab jika tidak memiliki wudhu. Cara mereka membawa Al Qur'an dan kitab pun diletakan diatas pusar (dada).
Ketika belajar Al Qur'an dan kitab, orang-orang Turki menggunakan meja pendek dan juga menghadap kiblat. Posisi duduk mereka pun diatur. Saat belajar Al Qur'an dan kitab, posisi duduk tidak boleh bersila apalagi selonjoran kecuali ada udzur. Posisi duduk mereka saat belajar Al Qur'an dan kitab adalah sama seperti posisi duduk diantara dua sujud ketika sholat.
Alasan dari tatakrama ini adalah karena orang-orang Turki yakin ketika hormat terhadap Al Qur'an dan kitab, mereka akan mendapat keberkahan. Jika ditelusuri, ulama-ulama terdahulu seperti Abu Hanifah pun melakukan hal seperti ini, katanya.
Disisi lain, orang-orang Turki percaya jika mereka hormat kepada Al Qur'an dan kitab, ilmu akan mudah dipelajari. Oleh karena itu, banyak orang berilmu yang lahir dari Turki karena mereka sangat hormat kepada Al Qur'an dan kitab.
Jika dilihat dari sejarahnya, tatakrama ini bersumber pada Osman Gazı atau Usman Gazi (pendiri Dinasti Turki Utsmani). Diceritakan bahwa ketika Usman Gazi bertamu ke rumah gurunya pada malam hari, ia dipersilahkan iistirahat di sebuah kamar. Di kamar yang ia tempati, terdapat kaligrafi Al-Qur'an yang dipajang di dinding kamar. Ketika Usman Gazi melihat ada kaligrafi Al Qur'an di kamar tersebut, ia menahan tidur selama 6 jam 20 menit demi menghormati Al Qur'an.
Hal ini menjadi salah satu alasan orang-orang Turki sangat memuliakan Al Qur'an dan kitab. Selain karena 'meniru' tatakrama Usman Gazi terhadap Al Qur'an, orang-orang Turki percaya bahwa hal tersebut menjadi alasan menapa Turki Utsmani berdiri selama 620 tahun. Baik itu alasan penghormatannya ataupun alasan jumlah jam dan menitnya.
Kembali ke pembahasan seyyid, sebagian sayyid-sayyid di Turki ada yang berkembang menjadi kelompok sosial. Hal ini dikarenakan banyaknya seyyid yang ada di Turki meskipun sepeeti yang saya sebutkan diatas, sulit untuk mengetahui mereka jika kita orang awam (tidak terlalu faham marga seyyid di Turki).
Menurut artikel yang dibca narasumber, di dunia ada sekitar 20.000 an keluarga habib/sayyid dan 10.000 diantaranya ada di Turki. Jumlah yang cukup besar menurut saya.
Para seyyid di Turki ini juga memiliki organisasi habib seperti di Indonesia, Mesir dan Syiria. Namanya Naqib al Ashraf. Tujuannya sama, untuk menjalin silaturahim antar seyyid bahkan mencatat nasab.
***
Oke. Sekian pembahasan seyyid di Turki. Tunggu lanjutannya tentang konsep habib di Lebanon.
Thankyou as always

0 Komentar