Kata pelakor terlihat sangat mendiskreditkan perempuan. Membuat spekulasi bahwa setiap kesalahan dalam hubungan (affair) adalah kesalahan perempuan. Anehnya, banyak perempuan yang menggunakan kata tersebut sebagai bahan guyonan sampai hinaan.
Tidakkah mereka berfikir bahwa itu berarti mereka menjatuhkan diri mereka sendiri sebagai perempuan?
Itu adalah tulisan saya tahu 2018. Tepatnya 26 Februari 2018 di facebook. Kenapa saya tulis ulang? Karena saya rasa fenomenanya masih relevan hingga saat ini.
Dalam kasus perselingkuhan, yang disalahkan adalah perempuan. Dalam tatanan sosial, perempuan selingkuhan ini kemudian dicap pelakor (perebut laki orang). Lucunya, yang mencap perempuan itu pelakor adalah perempuan juga. Ini aneh buat saya. Kenapa? Menurut saya, perselingkuhan merupakan kemauan dua pihak/orang yang sama-sama setuju untuk menjalin sebuah hubungan. Baik kadar mau menjalin hubungan kedua orang itu 10 %, 40%, 70%, atau bahkan 100%.
Perselingkuhan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak, harus dua pihak. Lalu kenapa yang mendapat sanksi masyarakat hanya perempuan? Mirisnya, jika ada perempuan yang selingkuh pun, yang dihakimi secara sosial adalah perempuannya. Mungkin beberapa ada laki-laki perebut perempuan atau bini atau istri orang ini yang dihakimi, tapi tidak sekejam kepada perempuan yang merebut laki-laki atau suami orang. Tidak maukah masyarakat membuat istilah pebinor (perebut bini orang) supaya adil? Kenapa laki-laki seperti bebas dari hukum sosial dalam kasus perselingkuhan?
Jika saya melihat lagi ke belakang, ketidaksamaan ini bukan hanya terjadi dalam perbedaan antara hukum sosial untuk pelakor dan pebikor. Namun juga pada kasus pelecehan seksual yang sering dikaitkan dengan hijab (menutup aurat). Perempuan seringkali menjadi korban hukum sosial pelecehan seksual ini. Komentar-komentar jahat yang bertebaran adalah : “suruh siapa ga pake jilbab”, “suruh siapa pake baju yang bikin merangsang”. Miris? Iya. Apalgi yang berkomentar bukan hanya laki-laki tapi juga perempuan! Kenapa perempuan yang selalu diharuskan menutup aurat? Kenapa tidak mengharuskan laki-laki menjaga padangan?
Hal ini bukan hanya berlaku di masyarakat, namun juga di dalam lingkungan terkecil sekalipun seperti keluarga. Sejak kecil, seorang anak perempuan pasti dididik dan diwajibkan untuk menjaga aurat. Tapi sayangnya, terkadang keluarga terutama orang tua lupa untuk mendidik dan mewajibkan anak laki-lakinya untuk menundukan pandangan. See? Bisa dilihat darimana hukum sosial yang tajam ke perempuan itu berasal.
Mungkin ada, banyak, orang tua yang mendidik anak laki-lakinya untuk menundukan pandangan. Tapi banyak juga yang tidak mendidik anak laki-lakinya untuk itu. Alhasil? Hukum sosial tentang perempuan yang selalu disalahkan muncul. Baik dalam kasus pelakor ataupun “suruh siapa ga pake jilbab”.

0 Komentar